IBU DALAM HITUNGAN WAKTU

Sekar gambuh kaping catur…

Cinarito putraku kang dak tresnani

Pituture tansah titi ngati-ngati

Mugi-mugi wangi melathi

Bulan genap menggantung diujung jari langit. Angin menyeruak melewati dedaunan pohon Sono. Tiba-tiba saja suara itu selalu menggangguku setiap malam. Dekat, sangat dekat bahkan tak ada jarak.  Aku merasakan bibirnya menyentuh daun telingaku,  sangat dalam. Ku tarik selimut tebalku, kulirik jarum jam yang kian susut, setengah empat. Bapak tua di surau sudah memulai aktifitas rutinnya  sebelum waktu subuh tiba. Dan suara itu hadir kembali. Menyelinap seperti raungan anjing malam. Menembus dinding-dinding malam pekat. Masuk ke dalam darah dan jantungku.


Setengah tujuh pagi, Kumatikan alarm yang berbunyi berkali-kali. Selepas subuh tadi tubuhku lemah dan memaksaku kembali ke pembaringan. Mataku masih sembab memikirkan kejadian tadi malam. Apakah mimpi? Jika memang mimpi, tapi mengapa mimpi itu seperti nyata. Siapa itu yang mendendangkan sekar gambuh tengah malam? Beberapa hari ini aku merasa seseorang memanggilku dalam malam. Seperti seorang perempuan berwajah teduh, bertubuh jangkung, punggung melengkung. Aku tak mengenalinya. Mungkin saja ia datang dari masa lalu.

Aplikasi ponselku berdering, kubaca sembari mata setengah terbuka, undangan seminar. Aku hampir saja melupakannya kalau sahabatku Lia tak mengirim pesan. Bergegas kuraih handuk, tiga puluh menit, tak perlu waktu lama untukku berdandan aneka rupa. Semua rekan kerjaku bilang, aku cantik. Untuk apa dandan terlalu lama kalau wajahku sudah mempesona. “Kamu pintar, cantik, mandiri.”  Tiba-tiba aku teringat pujian Lia, aku tersipu di depan kaca berukiran Jepara.

Mobil kami melaju ke arah selatan kota. Ku lemparkan pandangan ke luar jendela. Menikmati deretan pohon cengkeh yang berjajar rapi bak murid-murid sekolah dasar melaksanakan upacara bendera.  Kunikmati hamparan perkebunan teh dengan para wanita bertopi bambu lebar. Sembari bercengkerama, tangannya terampil memetik pucuk daun teh yang hijau. Sementara di pinggiran kebun, di bawah kemuningnya bunga Sono, anak desa bertelanjang dada duduk bersila. Raut wajahnya ceria, seperti tak pernah dirundung masalah. Tiba-tiba saja aku rindu masa kecilku. Masa kecil yang hangat dan penuh aroma tanah diguyur hujan. Dimana sawah menjadi lapangan bermain yang menyenangkan. Dan sungai kami sulap menjadi kolam renang.

Mobil melaju pelan, berhenti di depan sebuah rumah kecil sederhana, rumah orang tua Lia. Selama mengisi seminar di kota ini, kami memang singgah di rumah orang tua Lia. Nampak lelaki berwajah terang takjub berusaha mengenali saya. Meski kami tak pernah bersua, aku yakin Lia sudah banyak bercerita tentangku pada lelaki bersahaja itu. Dengan keramahan yang tulus ayah Lia membawaku masuk ke dalam rumah. Aku memilih duduk di kursi dekat jendela yang mengantar pandangan luas ke perkebunan teh. Selang beberapa saat, seorang wanita membawakan segelas teh panas untukku. Wanita dengan wajah tulus dan senyuman ramah tanpa paksaan. Tiba-tiba saja aku rindu ibu.

———————–

“Nduk, ayo bangun sholat subuh !”

Kutarik jarik yang kusebut selimut. Pagi yang dingin, memaksaku enggan bangun terlalu dini. Ibu terlalu rajin bahkan terlampau rajin. Sebelum matahari bersiap menampakkan kegagahannya, ibu sudah sibuk di dapur. Menyiapkan makanan untuk sarapan para pekerja ayah. Ayah seorang yang kaya, dari golongan keluarga berada. Wajahnya rupawan. Pesonanya mampu memikat setiap gadis desa, termasuk ibuku. Meski tua dan telah berkerut, paras ibu tak bisa berbohong, ia cantik.

“Wid, bangun. Apa susahnya cuma lima menit saja kamu sembahyang, nduk !”

Suara ibu kembali menerobos masuk gendang telinga. Menggaung di jantung. Lima menit? Toh aku kan masih kecil, belum wajib untuk ibadah rutin 5 kali itu. Ayah yang sudah berumur tak sekalipun kulihat sembahyang. Kulihat kerjanya setiap hari hanya tebar pesona sambil colek sana sini. Terakhir kali kulihat dia main ke rumah janda muda di ujung desa. Sesekali ia bawakan baju berbahan brukat merah jambu.

“Wid, ayo nak, lima menit saja kau bangun setelah itu boleh kau lanjutkan tidurmu!”

Lama-lama aku jengah dengan kelakuan ibu setiap hari. Hampir tak ada perintah lain selain sembahyang. Apa yang istimewa dengan sembahyang. Meski lima menit, tetap saja buang buang waktuku. Memang, di sekolah pak Amin guru agamaku pernah mengajarkan cara sembahyang, tapi aku tak tertarik. Buktinya ibu yang rajin sembahyang tapi nasibnya naas. Dinikahi seorang pria hidung belang seperti ayah. Wanita yang disebut istri tapi dianggap layaknya pelayan rumah tangga. Melayani dikasur, menggilas baju kotor di sumur, memantik api di dapur. Dan ayah, karena harta, wanita dan pangkat membuat hatinya makin berkarat.

Asap makin mengepul, rupanya ibu masih sibuk di dapur. Sambil mengusap peluh yang menetes di pelipis, ia mendekatkan ujung sendok sayur ke bibirnya. Rambutnya mulai menua, padahal usianya masih kepala tiga. Menyiratkan beban hidup yang mungkin ia simpan dalam-dalam dari kami, anak-anaknya.

Selepas SMP, ayah tiba-tiba menceraikan ibu tanpa alasan. Meninggalkan 4 anak yang masih butuh asuhan dan pendidikan. Kami mengikuti langkah ayah. Meninggalkan ibu seorang diri dalam rumah sederhana peninggalan orangtuanya.

Ayah membawa keempat anaknya ke kota. Menyekolahkan kami di sekolah ternama. Hidup kami mewah, tanpa kekurangan. Lantaran ayah seorang pekerja mapan yang berkecukupan. Hartanya takkan habis tujuh turunan. Itulah alasan yang menjadikan ayahku seorang hidung belang. Kegemarannya kawin disana sini, meninggalkan banyak anak dari beberapa istri. Untungnya ayahku sosok lelaki yang bertanggungjawab. Dia takkan meninggalkan anak-anaknya dari banyak istrinya hidup tanpa pendidikan. Demikian juga aku dan adik-adikku.

———————————-

Hari masih terang, burung-burung kecil terbang rendah. Sesekali menukik tajam dan mampir di besi jembatan tua. Anak-anak desa berlarian dengan sarung di pinggangnya. Sambil sesekali melempar peci yang tak lagi hitam. Udara sejuk, langit pun bersahabat membersamai hewan nokturnal yang mulai muncul dari persembunyiannya. Para wanita pemetik pucuk daun teh pun mulai meninggalkan kebunnya. Lia membuyarkan lamunanku.

“ Aku ingin mencari ibuku, Lia.”

Entah kenapa tiba-tiba raut wajah ibu begitu jelas di hadapanku. Seperti mesin pemutar waktu, aku seperti kembali ke masa dua puluh tahun yang lalu. Saat aku masih dalam asuhan tangan hangat ibu. Pada malam-malam yang dingin. Kunang-kunang beterbangan menerangi pekatnya malam desa. Seakan ia tahu ada kehangatan hati dan tangan ibu di rumah sederhana kami.

Sekar gambuh kaping catur…

Cinarito putraku kang dak tresnani

Pituture tansah titi ngati-ngati

Mugi-mugi wangi melathi

Suara jangkrik dan angin malam menambah kesyahduan dendang Ibu. Hampir tiap hari anak-anak Ibu menghabiskan waktu bersama di rumah tanpa ayah. Ayah sesekali saja datang membawa makanan enak dan baju baru untuk anak-anaknya. Lalu memberi beberapa lembar uang untuk Ibu. Ayahku seorang yang bertanggungjawab namun entah mengapa ia meninggalkan ibu saat anak-anaknya masih butuh pelukan dari dua sosok yang dicintai.

———————-

Tiba-tiba wajah ibu tersenyum di pelupuk mata. Tangannya yang hangat, meneduhkan raut anak-anaknya yang ditekuk. Mengangkat dagu kami sembari bercerita kisah masa kecil di sawah yang kami sulap menjadi lapangan bermain yang menyenangkan, dan sungai yang menjadi kolam renang. Anak-anak ibu yang mulai remaja. Yang enggan ditanya pergi kemana. Yang enggan sembahyang meski satu kali saja. Aku mulai merasa malu. Bahkan sampai usia sematang ini aku tak mengenal bagaimana caranya sembahyang. Sembahyang yang mengikat doa dimana selalu diselipkan Ibu pada tiap tidur kami, pada masa depan kami.

Sore terlihat sangat tua dari biasanya. Sawah tempat kami bermain hanya disinggahi satu dua ekor burung gereja. Tanah pematang mulai kering dan putih tertutup buah randu yang mengapuk. Sepi, gubuk yang dulu menjadi tempat berteduh kami mulai reyot atapnya. Kayu penahan patah sebelah.

Mega-mega yang semula jingga kini berubah warna. Mungkin dia murka pada manusia macam aku yang tak mengenal Tuhannya. Dan Ibu dalam hitungan waktu yang kian lamur dalam pandangan. Ibu yang dalam hitungan waktu kutinggalkan.

Seketika wajah ibu murung, wajah ibu sedih. Mendung perlahan turun, seperti asap tebal bergulung-gulung. Kulihat butiran bening disudut matanya. Mata yang mulai keriput namun tetap mempesona. Ibu terbang dengan kedua sayapnya. Menyibak dahan cemara, menembus senja yang merah. Ibu terbang dengan kedua sayapnya. Tinggi. Menyeruak awan yang tak putih, mengangkasa. Ia tak mampu berkata-kata. Ia hanya menatap kami tajam. Seakan kembali berpesan, sembahyanglah ! karena dengan sembahyangmu kau mampu menemui-Nya dalam hitungan waktu.

Penulis : Mukarromah Mh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *