FACEBOOK RIRI

Riri punya hobi baru. Kali ini dia rela meninggalkan hobi lamanya shopping di mal demi berjam-jam nongkrong di warnet. Ya, bermain facebook atau istilah kerennya FB-an. Entah siapa yang membawa demam facebook tersebut ke Indonesia, sampai-sampai bayi baru lahir pun tahu apalagi Riri, cewek yang dijuluki ratu katrok di sekolah ini begitu asyik ceklak-ceklik log in di facebook terbarunya…

“mau kemana, Ri ?”

Cici, teman sebangkunya yang mirip penyanyi dangdut cantik dengan ciri khas tahi lalat segede onde-onde (ups, udah dioperasi deng…) itu menyapanya seusai bel pulang sekolah berbunyi…

“biasalah, FB-an…,mau ikutan nggak?”

“Nggak ah, langsung pulang aja, daaa…”

Cici melambaikan tangan pada Riri yang langsung wer… dengan motor barunya. Dalam hati Riri girang banget melihat kesuksesan dirinya pamer sebgai facebooker sejati di hadapan Cici. Bayangkan, teman FBnya aja ada sekitar 10000-an orang (bukan ekor), belum lagi ia gabung di genk ini, genk itu, ikutan klub ini, klub itu, de el el..

“hallo, Mas…”

Riri menyapa genit mas penjaga warnet “Sumber Rejeki”. Yang disapa malah kedap kedip nakal tak karuan. Mungkin matanya kelilipan cicak di atap…

“Riri imut et yahu dot kom, nah, tralala… sip..”

Rri mengetik alamat email dan password yang aneh, jempol dan seluruh jarinya menekan tombol enter dengan semangat, sampai muncul bunyi THUOKKK….

kontan saja seluruh penghuni warnet Sumber Rejeki kaget. Itu ngenet apa maku beton bangunan…

Sambil cekikikan Riri asyik mengomentari status teman-temannya yang muncul di layar persegi panjang di depannya (monitornya udah LCD, bukan CRT lagi…). Sesekali chat dengan teman yang sedang online. Pantesan grup saykoji bikin lagu Online, ternyata dia juga jadi korban facebook seperti Riri…

Kali ini Riri memasang headphonenya. Sambil kepalanya manggut-manggut kayak burung perkutut, jemarinya masih terus menari di atas papan persegi panjang warna ungu (ceileee, memang ada keyboard warna ungu ?)

“Riri sukanyanyi, sedang apa sekarang ?”

Salah salah satu teman FB Riri di kotak chat. Yang disapa malah manggut-manggut keasyikan mendengarkan lagu dangdut favoritnya di headphone..

Tiba-tiba hape Riri bergetar, untung saja dikantongi di rok. Jadi getarnya sampai ke ubun-ubun…

“hallo, iya ma.. bentar lagi Riri pulang..!”

“kamu dimana ri? Sudah sholat belum? Jangan keluyuran ! nanti mama balikin motormu ke dealer kalau kamu macem-macem !”

Omel mamanya lewat hape…

“aduh, iya ma, ini Riri lagi di masjid, mau sholat, udah ya, assalamualaikum….”

Riri melirik jam tangan pinjaman dri kakaknya.

“Ups, jam 2.. belum sholat lagi..?!”

Dengan tergesa-gesa Riri log out dan langsung melempar empat lembar seribuan ke mas penjaga warnet yang geleng-geleng kepala melihat tingkahya.

“kembaliannya ambil aja mas…!”

“kembalian apaan, kurang limaratus nih..”

Penjaga warnet itu menggerutu. Tanpa menoleh Riri langsung ngeloyor pergi sambil berteriak..

“ngutang dulu mas, besok kesini lagi…”

Dengan santainya Riri berlari menuju sepeda kesayangannya dan meninggalkan si mas dalam keadaan terbengong-bengong ria.

#########

Kring..kring..

Bel masuk berbunyi, tanda pelajaran pertama akan segera dimulai. Setelah berbaris dan berdo’a di lapangan yang segede lapangan bola senayan itu, seluruh siswa TK eh, SMA  “Mari Mampir” memasuki ruang kelas masing-masing. Tapi ada juga yang masih asyik menempelkan kepalanya di jendela  kelas tetangga hanya sekedar untuk say hi sama gebetannya…

“ya ampun, ada pe-er ya,  ci..?”

Riri berteriak histeris begitu membuka buku PR matematikanya yang masih kosong blong (ada soalnya sih, Cuma kosong 73 %). Dengan santainya, Cici yang manis menimpali sambil mengibaskan rambutnya yang baru di bounding

“ya iyalah ada pe-er, emang kenapa? Lupa ya ?”

Cici masih menyisir rambutnya dengan jari

“aduh ci, mati aku, aku belum kerjain, pinjem bukumu dong ?”

Tanpa izin pada pemiliknya, Riri langsung menyambar buku PR Cici di meja.

“dasar plagiat, tapi nggak apa-apa deh, yang penting ntar semangkok bakso gratis pas istirahat…”

Cici berlagak seperti bos yang punya bawahan bego yang gampang dimanfaatin buat nyari makan gratis, sama seperti orang-orang yang di parlemen…

“oke, oke jangan ngomong terus…”

“Yah, kamu parno banget sih, baru nggak kerjain pe-er lima kali juga, takut banget…”

“bukan begitu ci, aku takut pak Heru nelpon papaku terus ngelaporin kelakukanku…, kalau sampai papa tahu, motor baruku bakal dibalikin ke dealer, masa aku ke sekolah naik becak lagi…”

Panjang lebar Riri menjelaskan, padahal katanya buru-buru, eh malah ngobrol…

Sementara itu pak Heru, sudah datang menenteng tas besar dan kemoceng kesayangannya yang sudah bulak kuduk. Lho, kok kemoceng ? iya, pak Heru guru matematika yang masih bujang dan terkenal killer itu memang cinta kebersihan. Selain kemocengnya buat mengelap meja, bisa juga dijadikan senjata melempar murid yang ngantuk atau ngerumpi saat pelajaran. Pernah si Dodi di lempar kemoceng oleh pak Heru lantaran dia ngantuk  dan ngiler di bangku. Sehingga rambut Dodi yang mirip Edi Brokoli itu tambah kribo karena kemoceng yang di lempar  nyangsang di rambutnya.

“Huh, akhirnya selesai juga…”

Riri lega melihat hasil karya contekannya telah selesai meskipun tulisannya mirip Afganistan yang di bom tentara Amerika….

“Mau ngenet lagi ri ?”

Tanya Cici waktu di parkiran sepeda. Sambil memasang alat pengaman di kepala dan tangan, lalu kacamata hitam, Riri mengangguk mantap..

“iya, sekalian mau nyari bahan buat pelajarannya bu Tia..”

“nggak kapok-kapok  kamu ya, ri. aku yakin kamu pasti nanti Fb-an, terus lupa sama browsingnya, terus buru-buru pulang liat jam udah sore, iya kan..?”

Bak peramal terkenal, almarhum mama Laurent, Cici menasehati Riri. Padahal sebenarnya dalam hati Cici ingin ikut FB-an, tapi Cici malu dan takut di ledek sama Riri. Masa juara kelas nggak bisa facebook-an…

“sok tahu kamu, aku udah pasang alarm di hape kok. Ntar FB-annya 45 menit, browsingnya 15 menit, oke kan? daaa..”

Mendengar itu, Cici hanya geleng-geleng kepala melihat sahabatnya ngebut. Saking ngebutnya, sampai-sampai ia tak melihat kucing yang melenggang kangkung di depannya. Untung saja tak tertabrak itu kucing…

Sampai di warnet langganannya, sepeti biasa ia menyapa mas penjaga warnet dengan senyum semanis mungkin. Kali ini si mas tak membalas dengan kedap kedip mata seperti biasanya, tapi mulutnya monyong 5 cm ke depan…

“kenapa mas ? sakit gigi ya ? kalau sakit, nggak usah kerja mas, di rumah aja !”

Berlagak seperti maknya, Riri semangat menasehati, padahal mas penjaga warnet itu manyun bukan karena sakit gigi atau Riri belum bayar hutang limaratus kemarin. Tapi karena semalam baru diputus pacarnya gara-gara nggak bisa bayar 2 piring nasi goreng pinggir jalan. Kasihan banget ya…

“Riri imut et yahu dot kom…”

“tralala,…THUOOKKK”

Masih jadi kebiasaan Riri menekan tombol enter sekuat tenaga sehingga membuat tetangga kanan kirinya lompat dari kursi karena jantungan. Padahal kemarin baru saja ditegur sama mas penjaga warnet tapi dengan santainya, Riri ngeles sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya,

“pengen kayak penjual soto dok di Jombang itu lho, mas…he, he, he,,”

Wajahnya yang innocent membuat si mas penjaga warnet terdiam tanpa kata (kayak judul lagu yah ?)

Ada 15 pesan baru di inbox Riri dan 10 friend request. Riri senyum-senyum sendiri mengakui betapa hebat dirinya.

“ternyata fansku banyak juga ?!” gumamnya dalam hati.

“Riri, apa kabar?”

Sapa seorang cowok salah satu facebookers di wallpost milik Riri.

“baik, thanks ya udah add me…”

Dengan bahasa inggris yang asal-asalan biar gaya, Riri membalasnya. Cowok itu bernama Prahara Pangestu. Aneh juga namanya, seperti nama film legenda pewayangan di TV. Beberapa hari ini Riri sering chat dengan Prahara karena kebetulan dua-duanya sedang online. Sampai pada suatu hari, cowok itu mengajak Riri ketemuan di salah satu kafé.

“usahakan kamu pake baju yang beda ya ri, biar aku bisa ngenali kamu..!”

Wallpost dari Prahara muncul di layar..

“oke, ntar aku pake baju ijo, celana kotak-kotak ijo juga, eh, pake kacamata item gede juga ya.”

Riri membalas wallpost dari Prahara. Busyet, si Riri mau ketemu cowok apa mau berjemur di pantai selatan. Untung saja kafé tempat janjian bukan tempat nongkrong favorit nyai roro kidul, yang ada juga nyai Riri kidul…

Kafe tempat janjian itu berada di pinggiran kota dengan nuansa klasik eropa dan makanan khas ala eropa. Sebenarnya Riri nggak suka dengan makanan seperti itu, kalau saja ada es blewah dan gorengan kesukaannya. Tapi apa boleh buat, daripada bengong kayak sapi ompong, jadi sambil menunggu Prahara yang tak kunjung datang, Riri memesan segelas moccachino.

Akhirnya datang juga sang Prahara. Dandanannya yang mirip bintang bollywood Shahruk Khan itu membuat Riri terbengong ala Ti Pat Kai murid Tom Sam Chong yang ngiler bila melihat gadis cantik.

“sorry, telat. Jalanan macet…”

Prahara meminta maaf atas keterlambatannya. Mereka pun berkenalan dan memesan makanan melimpah ruah seperti di pesta perkawinan. Mereka saling menceritakan kesibukannya masing-masing. Ternyata Prahara adalah seorang eksekutif muda. Pantas saja Riri langsung ketawa ketiwi sendiri begitu mendengar profesi cowok itu. Sampai pada akhirya…

“ri, aku boleh pinjem hape kamu nggak? Pulsaku habis nih, belum sempat ngisi..”

“oh, tentu saja dengan senang hati, nih…”

Riri memberikan blackberry terbarunya pada cowok itu tanpa curiga sedikitpun…

“eh, ri. Aku cari tempat sepi dulu ya. Disini noise…”

Cowok itu lalu pergi meninggalkan Riri yang mulai eneg dengan makanan di hadapannya.

15 menit, cowok itu belum datang, 30 menit belum muncul juga,…

1 jam, ternyata cowok itu belum kembali ke meja. Riri mencari cowok itu keliling kafe sampai kolong meja dapur pun sudah dijelajahi, tapi si cowok seperti lenyap di telan bumi…

Akhinya Riri pulang ke rumah dengan lemah, letih, lesu tak bertenaga. Blackberry raib, cowok pun nggak dapat. Eh, malah Riri yang harus bayar semua makanan yang dianggap aneh tadi. Padahal uang yang di pakai membayar adalah uang sakunya selama sebulan…

Setelah ini, Riri harus siap-siap dapat omelan dari mamanya lantaran blackberrynya lenyap. Belum lagi ucapan syukur dari Cici,

“syukurin, gara-gara facebook tuh, jadi sial kan ? ha, ha, ha…”

Penulis : Mukarromah Mh