BERHIJRAH UNTUK BERUBAH

Suatu ketika saya menikmati acara Kick Andy di televisi yang menayangkan seorang seniman tradisional bernama Mak Kamek. Profesinya sebagai pemain ketoprak di Yogyakarta membuat sosok yang setia selama 47 tahun bergelut di dunia seni tradisional ini paham bahwa tak selamanya masyarakat gandrung dengan kesenian tradisional. Sebut saja, kesenian kuda lumping yang nyaris hilang jejak, tari Seblang dari Banyuwangi atau budaya telinga panjang dari suku Dayak. Satu kalimat yang terucap dari mulut Mak Kamek:

“Hidup itu siklus, ada perubahan yang mengiringi siklus tersebut. 40 tahun yang lalu, masyarakat begitu cinta dengan ketoprak, namun sekarang lebih memilih bioskop untuk hiburannya, tidak apa-apa. Itu pilihan mereka. Tanggung jawab kami para seniman adalah membuat tontonan kami menjadi menarik seperti bioskop. Satu kuncinya, berubah tapi tetap pada esensinya…”


Kita mengenal kata ‘perubahan’ mungkin sejak berada di bangku sekolah dasar. Tapi pernahkah kita berkomitmen pada diri kita sendiri ‘aku harus melakukan perubahan!.’ Perubahan bisa berarti hijrah, revolusi, reformasi dan sebagainya. Sekitar 15 abad yang lalu, peristiwa hijrahnya nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah menjadi rujukan kita untuk melakukan perubahan. Berhijrah berarti berpindah tempat. Dari yang kurang baik menuju tempat yang lebih baik. Menurut Mahmud Syaltout (ulama besar Mesir), hijrah dikategorikan menjadi dua bagian; hijrah badaniyah dan hijrah qolbiyah. Hijrah badaniyah adalah hijrah yang bisa dilihat dengan mata (hijrah fisik­) seperti para urban yang berbondong-bondong ke tempat yang menjanjikan pekerjaan layak yang mungkin tidak lebih baik dari pekerjaan sebelumnya atau pindahnya para korban bencana menuju tempat yang lebih aman. Sedangkan hijrah qolbiyah adalah hijrah secara emosional (hijrah hati). Seperti perpindahan kondisi dari kemaksiatan menuju jalan yang diridloi Allah, dari ketergesa-gesaan menuju kesabaran dan dari kufur menuju syukur nikmat.

Peristiwa hijrahnya nabi ke Madinah merupakan embrio esensial terbentuknya masyarakat muslim sejati. Setelah hijrahnya beliau pula, agama Islam berkembang sampai seluruh Jazirah Arab bahkan sampai ke penjuru dunia termasuk bumi Indonesia, Subhanallah. Meskipun umat Islam kini tak lagi menjadi pusat penggerak peradaban akibat pengaruh westernisasi. Maka tak ada upaya lain yang harus kita lakukan kecuali satu kata; ‘perubahan’, benar kita harus berubah. Berbenah mengejar ketertinggalan menuju peradaban diri yang benar-benar kaffah.

Ali Syariati, seorang sosiolog dari Iran berpendapat hijrah adalah gerakan atau loncatan besar manusia meniupkan semangat perubahan dalam pandangan masyarakat yang pada gilirannya menggerakkan dan memindahkan mereka dari lingkungan yang beku menuju tangga kemajuan dan kesempurnaan (Al Falah edisi 273). Perubahan akan membuat manusia dituntut untuk meninggalkan kebobrokan menuju kemajuan. Dengan demikian akan mampu merombak tatanan masyarakat dari konstelasi tak beradab menjadi tatanan masyarakat yang menjunjung tinggi norma-norma agama yang bermartabat.

Dalam QS. Ar Ra’du yat 11 disebutkan :

Tidaklah Allah mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri. Selalu tanamkan dalam diri kita, bahwa Allah-lah penggerak alam semesta, perubahan hanya terjadi jika Allah berkehendak dan percaya pada upaya kita.

Agama Islam sendiri sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin memberikan tiga cara untuk mencapai perubahan yang maksimal. Pertama, tajdid atau pemurnian. Tajdid merupakan perubahan moral melalui pemantapan iman. Setiap muslim mempunyai keharusan dalam menjaga sikap tajdid ini. Penekanan kalimat ’jaddiduu imaanakum’ yang berarti murnikanlah imanmu menjadi patokan mengapa kita harus bersikap tajdid. Secara hakiki manusia dikatakan beriman jika secara dhahir dan batin mengamalkan keenam rukun-rukun iman dalam kehidupan di dunia. Namun iman juga bisa tercermin ketika seseorang bersabar dan bersyukur. Sabar untuk menahan diri dari hal maksiat dan bersyukur untuk senantiasa menjaga nikmat dari Allah. Kedua, taghyir atau perubahan nasib. Al-Qur’an sebagai hukum mutlak dari Allah, tertulis Inna Allaaha laa yughoyyiru maa bi qoumin hattaa yoghoyyiruu maa bi anfusihim, kalimat dalam surat ar Ra’du ayat 11 ini menjadi referensi kita untuk melakukan perubahan. Kita bisa memulainya dari diri sendiri, keluarga, masyarakat dan seterusnya. Orang tua mempunyai tanggung jawab taghyir terhadap anak-anaknya. Bila kita seorang guru, bersikap taghyir untuk anak didik kita. Meninggalkan pembelajaran yang kurang baik dan menggantinya dengan kegiatan belajar mengajar yang lebih baik dan menyenangkan. Dari merusak kepada membangun. Dari lalai kepada hati-hati. Dari malas menuju giat, dari ceroboh menuju disiplin dan dari sikap liar menuju sikap yang taat. Taghyir harus dilakukan dengan sikap sejuk dan damai bukan sikap radikal dan anarkis seperti yang terjadi di negeri kita baru-baru ini. Ketiga, tashlih atau perbaikan. Perbaikan dalam segala hal akan menjadikan suatu peradaban berkembang. Tashlih (perbaikan) ini mencakup tashlihul aqidah (perbaikan aqidah), tashlihul ibadah (perbaikan ibadah), tashlihul akhlaq (perbaikan akhlak), tashlihul iqtishadiyah (perbaikan ekonomi), tashlihul siyasyah (perbaikan tatanan politik), tashlihul muamalah (perbaikan hubungan masyarakat), dan sebagainya.

Komitmen dan Ketekunan

Melakukan perubahan diri tidak serta merta harus drastis namun tak berkelanjutan. Artinya hari ini kita sadar ada yang salah pada diri kita, lalu esok harus berubah total, namun lusa kita lupa dan lalai. Satu kata yang harus mengiringi langkah perubahan, komitmen. Komitmen merupakan kekuatan yang mendorong kita untuk terus maju menggapai cita-cita meski berada dalam keadaan sulit. Nabi Muhammad SAW memberikan pengajaran agar senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan positif, karena Rasulullah sendiri menyukai amalan yang biarpun kecil/sedikit tetapi istiqomah (kontinyu). Setiap amalan yang kita lakukan haruslah utuh dan bulat. Utuh artinya proporsional sesuai dengan kemampuan, tidak terpecah yaitu fokus dan concern. Sedangkan bulat adalah tak berpangkal dan berujung, artinya setiap amalan manusia termasuk perubahan sikap haruslah tanpa ujung (berkelanjutan/istiqomah).

Ada dua tipe manusia. Ada manusia yang suka berpangku tangan tanpa usaha apapun untuk  meraih impiannya. Hanya bermodal kepuasan, tak memerlukan inovasi dalam hidupnya (stagnan). Hidup seperti ini tidak memiliki visi dan tantangan. Tipe yang kedua adalah manusia yang suka berinovasi bahkan selalu mencari tantangan untuk berkembang dan memacu diri. QS. Al-Insyiroh ayat 7-8 menyebutkan :

“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sunguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” Inilah ajaran Allah yang memberikan motivasi dan tuntunan agar kita berkembang. Maksudnya adalah setelah melakukan pekerjaan yang selesai, segera melakukan pekerjaan lain dan tidak merasa cepat puas. Hal ini membutuhkan pola pekerjaan yang profesional. Ada pengorganisasian, kontrol dan evaluasi. Dan komponen paling penting yang membuat sinergitas pekerjaan ada, yaitu istiqomah yang mencakup komitmen dan ketekunan untuk melakukan suatu perubahan besar.

Al-Qur’an Sebagai Ruh

“Dan kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dholim selain kerugian.” (QS. Al Israa ayat : 82)

Allah SWT menjelaskan keutamaan diturunkannya Al-Qur’an tak pernah dicampuri dengan keburukan baik di awal maupun akhir diturunkannya ayat. Al-Qur’an adalah penyembuh dari Dzat yang Maha Perkasa. Al-Qur’an dapat dijadikan terapi untuk penyakit hati seperti keragu-raguan, kemunafikan, syirik dan hal-hal yang rentan dengan kesesatan. Begitulah pesona Al-Qur’an, bisa menyihir siapa saja umat yang memiliki kesiapan iman. Seperti yang tertuang dalam QS. Al- An’am : “Sesungguhnya Al-Qur’an ini tak lain hanyalah sihir yang nyata. ”

Al-Qur’an merupakan rahmat yang mengajak menuju keimanan, hikmah, kebaikan, dan cinta pada sesama, termasuk sikap untuk melakukan perubahan diri. Semua itu bisa terjadi hanya kepada orang-orang yang memiliki keyakinan terhadap Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kemuliaan, jaminan kemuliaan bagi setiap muslim yang memahami sekaligus mengaplikasikan nilai-nilai qur’ani dalam kehidupan, dengan membenahi lagi pola hidup kita yang mungkin jauh dari Al-Qur’an dan membingkai setiap langkah kita hanya dengan rujukan-rujukan dari Al-Qur’an. Semoga Allah senatiasa memudahkan segala urusan kita.

Dalam Al-Qur’an sendiri ada puluhan ayat yang menjelaskan pentingnya manusia melakukan perubahan, surat ar-Ra’du ayat 11, surat al-Baqarah ayat 11, 148, 160, surat al-Furqon ayat 7, dan masih banyak lagi. Dalam surat ar-Ra’du Allah begitu tegas memerintahkan manusia untuk melakukan inovasi (pembaharuan) dalam hidup sejauh tak menyimpang dari koridor syariat. Masih ingatkah kita, dulu dakwah dilakukan dengan mengadakan forum kajian di masjid atau mushalla-mushalla. Namun sekarang banyak da’i yang melakukan perubahan. Dengan masih mengutamakan esensi dakwah, beberapa da’i sengaja selalu menyelipkan humor di sela-sela ceramahnya atau yang memakai media wayang golek dan syair lagu. Tengok juga, sinetron-sinetron yang membubuhkan pengetahuan islam dari sejarah sampai ibadah. Realita kehidupan masyarakat yang diangkat dalam sebuah hiburan audio visual yang menarik namun masih menjunjung tinggi ayat-ayat suci Al-Qur’an sebagai sumber hukum mutlak untuk berdakwah.

Semoga dengan semangat perubahan yang kita lakukan, sedikit banyak akan mempengaruhi anak-anak generasi kita untuk lebih bermoral dan berkarakter qur’ani. Bukan hanya tanggung jawab orang tua dan guru, tapi semua unsur masyarakat harus berperan. Semoga bermanfaat !

Sumber Referensi :
Al-Qur’an dan terjemah
Pengantar studi Islam (tim IAIN Sunan Ampel)

Penulis : Mh. Mukarromah (Guru al-Qur’an)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *